Selasa, 07 Maret 2023

Tips Menghadapi Kesulitan Ekonomi

Ada dua hal penting yang mendasar agar kita terhindar dan tidak sukar dalam menjalankan kehidupan perekonomian

Yang Pertama adalah ikhtiar
Dengan segala potensi yang ada pada diri niscaya kesulitan Ekonomi terhindari.

Kedua Doa 
Doa yang mustajab dan tulus ikhlas mengharap Tuhan kita yaitu Alloh agar mengabulkan segala Do'a kita sehingga kita dapat menjalankan roda perekonomian sesuai syariat yang diperintahkanNya supaya mendapatkan keridhoan dan Keberkahan

Serta tambahan ibadah lainnya seperti sabar dan sholat sehingga dapat mengantarkan kita agar lebih baik lagi wallohualam
Insyaalloh...

- Quote Of The Day -

Sabar dan Sholat.

Kata “sabar”, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sabar adalah tahan dalam menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, dan tabah. Kata sabar berasal dari bahasa Arab yaitu as-Shabru, yang berarti menahan diri dari keluh kesah.

Menurut Wikipedia; Sabar adalah suatu rin menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya.

Sabar Menurut Islam: Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, َر َب ص yang berarti menahan, mencegah atau tabah. Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Dan Sabar bukan berdiam diri melainkan menjaga perilaku agar selalu berada dijalan yang Benar Menurut Diri, "Masyarakat Umum", Bangsa, Negara dan Agama agar terhindar dari sifat tidak terpuji dan yang dilarang.

QS. 2: 45 Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

QS. 2:153 Allah SWT juga berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang dekat dengan Allah SWT.

Hadist

Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran." (HR Bukhari No 1469).

Selasa, 21 Februari 2023

Kemiskinan Ekonomi Akibat Efek Domino Kesejahteraan

DOMINO EFEK KESEJAHTERAAN

Sekitar dua pekan yang lalu saya kedatangan aktivis dakwah jalanan. Sosok yang mendedikasikan dirinya untuk segmen dakwah mereka yang banyak menghabiskan waktu di jalan, relatif tidak berpusar di Masjid, apalagi ta'lim.

Pengalaman beliau terjun di dakwah jalanan tentunya berdampak pada kedalaman pemahaman beliau tentang apa yang masyarakat hadapi. Sangat berbeda pendalamannya dengan kami yang mungkin banyak berpusar di masjid dan ta'lim.

Salah satu problem memprihatinkan, yang kemudian disimak oleh sahabat saya ini adalah... maraknya judi online dikalangan masyarakat ekonomi kelas bawah. Bahkan pekerja moda roda dua online pun aktif beli token judi, sepuluh dua puluh ribu untuk bertaruh di platform judi online.

Pendalamanpun beliau lakukan, mengapa disaat ekonomi sudah sulit, masih mau-maunya berjudi, ternyata sudut pandang lain terkuak, mengejutkan,

"Mereka itu bilang, kalo cuma bawa hasil ngojeg sepuluh dua puluh ribu ya gak cukup, desakan kebutuhan harus ngidupin anak-anak, makan, itu lebih dari segitu. Jadi bagi mereka, mempertaruhkan sepuluh dua puluh ribu untuk dapat gede, jadi ilusi tersendiri."

Tragis memang, tetapi itulah masalah sosial yang hari ini kita hadapi. Berjudi tidak lagi harus ke tempat judinya. Semua amal sholih dan juga amal maksiat, dalam waktu yang bersamaan bisa diakses lewat teknologi yang mudah hari ini.

***

Membaca kemiskinan sebenarnya tidak bisa hanya dibaca sebagai perilaku personal. Misalnya anggapan "dia miskin karena malas". Hal ini gak bisa jadi patokan karena kemiskinan dalam keilmuwan sosial juga bisa terjadj karena struktur ekonomi masyarakat yang gak bisa menghadirkan kesejahteraan, mau serajin apapun orang tersebut.

Kita harus melihat secara holistik, kemiskinan terjadi pada awalnya karena tidak ada platform ruang pekerjaan bagi angkatan tenaga kerja aktif, lalu jika ditarik ke belakang, tidak mumpuni nya kualitas pendidikan dalam menghasilkan output kompetensi. Jika ditarik lagi ke belakang, ketidak cukupan unit sektor riil yang dapat menampung semua angkatan kerja.

Alhasil mencari penghasilan jadi berat, serat-serat penghasilan jadi tertekan. Itulah yang mendera masyarakat.

Jika memang arus penghasilan yang menjadi permasalahan, harusnya kita bisa mengoperasi kemiskinan ini dari sisi yang lain, yaitu mengurangi beban kebutuhannya.

Pada tulisan kali ini saya ingin memberikan apresiasi kepada gerakan dakwah pendidikan Quran dengan konsep beasiswa penuh, dimana angkatan belajar negeri ini terserap di rumah-rumah Quran dan pondok-pondok Tahfidz. Tidak hanya belajar, tetapi juga bermukim.

Di titik program seperti inilah kebutuhan hidup para pemimpin keluarga bisa terkurangi. Saudara-saudara kita yang Allah uji dengan kecilnya arus penghasilan dapat ringan hidupnya, jika anak-anak saudara kita tercover pendidikan dan hidupnya di pondok-pondok tahfidz.

Mari kita bahas sedikit, seorang santri yang menjalani program tahfidz Al Quran, biasanya mukim di asrama selama tiga tahun, ditanggung makannya, biaya hidupnya, hingga proses pendidikan pun tidak bayar apa-apa.

Jika pondok-pondok dan rumah Quran ini bertumbuh maksimal di negeri ini, maka serapan pada anak muda angkatan belajar pasti akan tinggi. Dan ini insyaAllah meringankan banyak beban pemimpin keluarga yang masuk dalam kategori dhuafa.

Kesejahteraan dalam perspektif Islam sederhana. Tercukupi kebutuhan makan, ada hunian, tercukupi sandang, lalu akses pada pendidikan dan kesehatan.

Gerakan Rumah Tahfidz Quran dan Pondok Quran sebenarnya adalah jawaban atas soslusi kemiskinan di negeri ini, setidaknya solusi awal untuk menekan beban kebutuhan keluarga dhuafa, biarlah anak-anak generasi muslim ini dididik sekaligus dinaungi kehidupannya oleh lembaga dakwah.

***

Visi besar diatas bukan utopia. Perlahan populasi Rumah Quran perlahan bertumbuh, dan kerja peradaban ini haruslah didukung oleh semua pihak, semua entitas, barulah gelombangnya bisa maksimal.

Ada gerakan yang menyediakan beras pondok, ada gerakan yang menyediakan voucher listrik untuk pondok, ada gerakan yang menyediakan khusus telur untuk pondok, ada yang lebih jauh sampai menyediakan daging untuk santri, di berbagai pondok. Kesemua itu adalah harmoni gerak yang harus kita doakan dan dukung, untuk gelombang perbaikan generasi kedepannya.

Bukan hanya dihidupi, tetapi generasi ini dididik dengan Al Quran. Bukan hanya sekedar memberi makan dan tempat tinggal, tetapi kita bersama-sama mencetak generasi muslim yang dekat dengan Al Quran.

Semoga perspektif ini mendorong kita untuk semakin semangat mendukung gerakan dakwah kesantrian tahfidz di negeri ini. Mari dorong lahirnya titik-titik pemukiman pondok untuk para santri. Mari sama-sama dukung makannya, pendidikannya, dan segala kebutuhannya.

Semoga Allah ridho, semoga Allah turunkan rahmah.

URS

Jumat, 20 Januari 2023

Sosial Ekonomi Indonesia

Dear Ekonomi Indonesia...

Saya Mengajak keluarga's, rekan's, kawan's, teman's semua yg Tua, Muda dan Remaja untuk membangun Negeri, dengan bersenang hati.

Bersinergi, berkolaborasi dan berbakti kepada ilahi Robbi dengan cara mencintai Indonesia ini. Tentunya dgn cara yg sangat senang..

Namun tantangannya banyak oligarki tiada henti yang mementingkan diri, keluarga dan golongannya saja.

Dear Ekonomi Indonesia...

sepertinya sistem tidak berjalan dengan benar, politik baik seakan diputar balik.
Sosial Ekonomi hanya dilingkarkan itu-ini saja.
Budayapun sama
Pertahan keamanan militer memang sudah cukup namun harus banyak tambahan.
Dan Hukum masih ada kekurangan. 
Tapi saya bersyukur Alhamdulillah Indonesia damai..

Apakah ini ada semacam formalitas saja, tidak dibarengi dengan 'ikhlas' tidak merata kepada masyarakat luas..
Padahal ini kan harus prioritas agar masyarakat makmur dan sejahtera.

Obsesi ekonomi agar berkuasa dengan cara yg unik, cerdik dan tentunya baik memang harus namun harus disertai keadilan.
Jangan menghakimi dari satu sisi.
Lihat Aturan yg berlaku.

Dear Ekonomi Indonesia...

Padahal itu semua akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan yaitu Alloh SWT kan?

Saya sempat merefleksi diri dan mengevaluasi. Apakah diri ini lebih memberikan kritik, saran dan ide yg pada akhirnya mereka menjawab tidak berhak, nanti ke yang lain atau ditanyakan dulu ke atas. Apakah itu pantas?..

Padahal itu semua demi pembangunan negeri. Apakah yg diatas hanya tunjuk sana dan sini memerintah tanpa arah saya yakin tidak, pasti ada arah dan tujuan.

Semoga dijauhkan dari serakah, bedebah dan pongah.
Karena Masih Ada Alloh yang Maha Gagah.

Sebuah negeri kuat apabila dalam internal itu solid dan eksternal ini handal. Memang terkenal akan menjadi fenomenal..

Dear Ekonomi Indonesia...

Saya takut ada yg memanfaatkan ekonomi kekuasaan seenak jidat dan mdh2an kekhawatiran saya dijauhkan..

Negeri ini takkan Maju secara Ekonomi apabila yg berkuasa membiarkan orang yg pintar, jenius untuk membangun negeri diasingkan. Ini sudah tahun 2022 jaman canggih..

Yuk bersama, bersatu membangun Indonesia tanpa ada rasa iri dan dengki. Kita ini manusiawi yang hakikatnya makhluk sosial dan berakal.
Kita sama2 membawa bekal untuk akhirat yang kekal.

Dear Ekonomi Indonesia..
Pada Akhirnya saya bisa berdoa;
Ya Alloh Ya Robb..
Amankanlah Ekonomi negeri ini
Makmurkan kami 
Sentosakan kami
Sejahterakan kami
Berkahi Kami ini dan
Ridhoi Kami Nanti..
Insyaalloh Aamiin YRA 🙏😇🤲
Alfatihah 99x

Maafkan saya bila ada salah kata dalam penulisan dan semoga Alloh memaafkan 🙏
(SuryaS09)

Sajarah Ekonomi

Wancik waktu anu Mustari
Mepeling barudak negri
Piken kanyahokeun sajarah Ekonomi Nu saestuna...

Dizaman ayeuna pohara jalma anu teuapaleun Kana perjalanan kahirupan, perjuangan sarta pangorbanan Ekonomi anu kalintang gedena.

Kolot baheula nanjerkeun hiji pamadegan Sangkan ekonomi urang ulah eleh ku penjajahan.

Bulan Agustus ayeuna nyaeta bulan kamerdekaan, kabebasan Nu kudu dieusi ku mangrupa kahadean Jeung kabaktian Ekonomi kanu Kawasa.

Urang teu walakaya, teuaya daya upaya mung ku MantenNa dipasihan kakiatan Ekonomi 
Sumerah pasrah nyuhunkeun RahmatNa.

Sajarah Ekonomi bakal kaulang, urang salarea kudu nyiapkeun Sagala rupa keur ayeuna Jeung jaga. Nyiapkeun anu panghadena, pangsaena pikeun mulang Sangkan mere NU paling Hade.

Pabalap-balap Dina kahadean Ekonomi Sangkan Alloh Ridho ka urang sadaya.
Sarta Dipasihan kameunangan. Nyaeta Meunang SurgaNa Alloh SWT.

Insyaalloh, Aamiin YRA 😇🤲

Memiliki Ekonomi

"Merasa Memiliki"

Bayangkan, jika di tangan kanan saya ada uang 100.000,-
Dan di tangan kiri saya ada potongan kertas putih, dengan ukuran yang sama dengan uang.
Lalu saya memberikannya kepada anda..
Bayangkan kedua buah kertas itu sudah berada di kantong anda, dan simpan baik-baik..
Beberapa waktu kemudian saya memintanya kembali potongan kertas putih tersebut, lalu apa yang terjadi?

Tidak keberatan bukan?

Setelahnya saya pun meminta uang 100.000.- dan anda pasti keberatan, alasannya sudah dipakai atau bisa apa saja,.

Betul??
Kenapa demikian?

Jawabannya karena anda "merasa memiliki"

Seorang bijak pernah berkata kepada saya, bahwa awal dari penderitaan hidup adalah "merasa memiliki, orang yang takut kehilangan hanyalah orang yang "merasa memiliki".
Padahal seharusnya kita menyadari, yakni Alloh tidak pernah memberikan hak milik kepada kita, melainkan hanyalah memberikan "hak guna pakai" kepada semua mahluk ciptaannya..

Jadi kalau ada pertanyaan,
"sejak kapan kita sedih?",
"sejak kapan kita susah?",
Jawabannya adalah, sejak kita "merasa memiliki".

Padahal apa pun yang kita punya kemarin dan hari ini, akan kita tinggalkan semuanya.
Sehat, sakit, kaya, miskin, suka, duka, lapang sempit, bahagia, dan menderita, semua sifatnya sementara.

Betul?

Hanya yang "merasa memilikilah" yang takut dan merasa kehilangan.

Itulah pentingnya konsep "Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rozi'uun" (bukan diucapkan ketika adanya kematian seseorang, tapi konsep saat kita hidup untuk melihat dan mempersiapkan kematian kita sendiri).
Kemelekatan adalah akar dari penderitaan, saya kira..

Setelah direnungi, baik orang yang pernah mengalami kehilangan, gagal, dan kembali ke awal, pun orang yang belum banyak mengalami hal itu, haruslah ini menjadi catatan dan pelajaran berharga teman-teman..
Di sini saya hanya bisa berbagi, atas apa yang telah kita rasakan, atau anda yang pernah sama-sama merasakan, bukan maksud menggurui..

"Ketika kita menggenggam sesuatu terlalu erat, yakin akan merasakan sangat sakit ketika kita harus terlepas".
Banyak diantara kita yang terlalu melekatkan harta, orang yang kita cinta, dan jika kita terlalu melekat dengan sesuatu itu, kemudian sesuatu itu rusak, hancur, lenyap meninggalkan kita, akan menimbulkan rasa duka yang teramat dalam.
Untuk itu satu-satunya kemelekatan yang harus kita punya dan kemelekatan ini akan "menghadirkan kebahagiaan" hanyalah, lekatnya hati dan diri kita hanya kepada Alloh, karena Alloh lah satu-satunya yang tidak akan pernah meningalkan kita..
Justru kita lah yang sering meninggalkan Alloh..

Semoga menginspirasi
#evaluasidiri
#Edisi_mapagahan_diri.

Derick Firdaus 191122

PENDIDIKAN EKONOMI ISLAM

KELUAR KOTAK

Daripada kita ngajarin kecerdasan manajemen keuangan untuk para ustadz ustadzah di pondok, alangkah baiknya kita juga membangun mekanisme kesejahteraan yang agresif untuk para guru. Kita letakkan orang berilmu pada harkat martabatnya.

Kecerdasan finansial, mengatur keuangan, itu penting, kalo ada uangnya. Nah, jika uangnya aja ngepas, ngepress, apanya yang mau dimanage, apa yang mau dikelola?

Membekali para ustadz dan ust!dzah dengan bekalan entrepreneurship ini juga harus hati-hati. Narasinya kayaknya keren, padahal bahaya.

"Agar guru juga bisnis, dagang, gak menggantungkan diri ke honor ngajar."

Tapi akhirnya seorang guru jadi gak punya waktu belajar, dan ini bahaya. Ilmu harus diasah, dipelihara, di murojaah, dimulazamah, jangan malah sibuk jualan.

Jika maqomnya di keilmuwan, biarlah fokus mendaras kitab, menulis di web, menulis tanya jawab ke ummat, berdialektika kajian di multaqo 'alim ulama, agar ummat ini ter asuh, terawat.

Sejarah kegemilangan Islam sudah menjawab, adanya Waqful Fuqoha untuk para faqih ilmu asalah bukti bahwa ulama itu tugasnya keilmuwan, jangan dipaksa dagang jualan, gak semua cocok.

Waqful Fuqoha itu, dibiayai hidupnya dari wakaf produktif, ditopang hidupnya dari hasil kebun-kebun kurma yang diwakafkan Sultan, kebun-kebun zaitun yang diwakafkan oleh aghniya, ada scriptnya, kalo mau fair sama sejarah, dibuka ada.

Maka alangkah baiknya ini yang difikirkan. Bukan nganggap para guru mata duitan, gak ikhlash, tapi terkadang kita gak menempatkan ahli ilmu di tempatnya.

Jika gaji guru, ujroh para ustadz di pondok-pondok ini gak ngejar ke angka kelayakan, dorongan migrasinya SDM bagus-bagus ke sektor lain ini pasti terjadi. Paling riskan adalah migrasinya guru laki-laki, karena penopang keluarga, dan tersisalah dominan para guru perempuan, ini juga dampaknya besar pada generasi laki-laki yang kehilangan teladan maskulin di bangku pendidikan.

Saya usul, usul pribadi aja, ya bukan atas nama entitas atau lembaga, alangkah baiknya kita mendesain kesejahteraan yang agresif untuk para guru-guru kita.

***

Masalahnya menurut saya bukan di pengelola Yayasan, atau pimpinan. Jangan buruk sangka dulu.

Saya bicara dan diskusi banyak dengan para pengurus yayasan, gak jarang juga mereka buka laporan keuangan. Ya pusing juga menghelat pondok ribuan santri, walau ada SPP, ya gak bisa besar-besar, walau ada uang wakaf, tergerus ke bangunan baru atau maintanance.

Gak ada yang namanya nilep-nilep, itu sangka baik saya.

Namun menurut saya salahnya di modeling arus pemasukan entitas pondok, atau pendidikan Keislaman. Yang salah ada di cara berfikir dan cara main yang dipertahankan. Old school, gak ngikutin zaman.

Arusnya hanya dari SPP, uang masuk, uang naik tingkat, yang kalo mau digimana-gimanain, pasti ada batasnya, apalagi berlakunya ke seluruh santri. Pukul rata.

Sebuah nominal pasti ringan bagi sebagian wali santri, tapi beratnya setengah mati bagi wali santri yang lain.

Gak usah jauh-jauh bikin bisnis pondok, atau mau bikin usaha produktif, gak usah jauh kesitu, ngejalaninnya aja nanti belum tentu bener, masalah baru lagi nanti. Silakan aja kalo ada SDM profesionalnya.

Coba fokus aja ke segmen khusus di para wali santri. Data santri aktif ribuan, 6 tingkat. Setingkat SMP-SMA. Tsanawiyah Aliyah. Berarti wali santri aktif ada berapa ribu itu, belum lagi alumni pondok yang sudah berkarir.

Mengapa gak bikin entitas khusus untuk kelola potensi ini? Dari belasan ribu wali santri, insyaAllah ada segmen pengusaha muslimnya, ada segmen aghniya nya, mengapa gak dibangun komunikasi intens kepada segmen ini?

Bangun tim relation pondok yang profesional. Hire tim komunikasi publik yang handal. Rekrut marketer program yang ngerti cara offering amal sholih. Sangat bisa dilakukan.

Maka arus pemasukan pondok bisa berlipat. Malah bisa jadi satu gedung baru dari wakaf satu pengusaha muslim.

Ini masalah transfer visi, ruh, pelayanan, selama komunikasinya baik, insyaAllah bisa.

Jika ragu bantu uang, kirim fisiknya saja, kirim mobilnya, semennya, bangku belajarnya, bismillah.

Sangat bisa. InsyaAllah.

Dengan diterapkannya multiple income source, sebuah pondok bisa memberlakukan imbal balas kerja yang progresif kepada tenaga pendidik.

Tidak hanya dari SPP, tidak hanya dari uang pangkal atau uang tingkat, tapi bisa dari infaq wali santri, waqaf tunai wali santri, kerjasama wakaf hak hasil usaha, dan banyak lagi.

***

Bicara kesejahteraan itu bukan cuma soal gaji. Jika pondok dapat mensupport kediaman untuk para ustadz, fasilitas kesehatan, sumber pangan bersama agar living cost murah, lokasi perumahan ustadz dan pondok yang dekat, hingga menekan beban transport, insyaAllah sejahtera.

Membangun perumahaan komersial yang dapat dimiliki oleh para guru itu baik, silakan saja difasilitasi, namun jika kembali ke sejarah wakaf, fasilitas wakaf kediaman untuk para pengajar itu membentang di sejarah Islam. Tinggal berani baca atau nggak aja. Ada yang pura-pura gak tau.

Secara pribadi saya punya impian, di negeri ini, imbal kerja seorang ustadz ustadzah di entitas pendidikan Islam adalah profesi yang didambakan. Insentif itu menggerakkan market, kalo imbal balasnya gak agresif, sosok-sosok berkualitas generasi muslim ini akan lari ke sektor komersil semua, jangan bicara jiwa pengabdian pada nyawa kehidupan seseorang. Ini hidup orang.

Desainlah nilai balas kerja yang agresif, bangun sistem kemakmurannya, insyaAllah seorang ustadz ustadzah akan dapat mengajar dengan tenang, poll.

Mudah-mudahan dengan dicukupi kebutuhannya, waktu luangnya akan digunakan untuk membuka kitab, memperkuat ruh, mendalami ilmu, bergerak dari dauroh ke dauroh, maka yang akan mendapatkan benefit adalah anak-anak kita sendiri, generasi kaum muslimin.

Anak-anak kita akan didik oleh para ustadz ustadzah yang benar-benar seratus persen dedikasi hidupnya untuk pembentukan karakter, transfer ruh, pendalaman ilmu.

***

Semangat tulisan ini, mengajak kita semua keluar dari kotak, berfikir meluas, mencari cara pendekatan baru.

Berhenti kita saling menyalahkan, Pembina Yayasan juga pusing, Ketua Yayasan juga, para tim Asatidz apalagi, mengasuh ribuan santri.

Sudah saatnya kita membuka fikiran atas peluang, celah kebertumbuhan, jangan sampai potensi ribuan wali santri hanya difikirkan SPP dan uang wakafnya saja. Itu pasti fix. Fix berat gak cukup.

Kembali menegaskan saran diatas, perlu dibangun pemasukan pondok yang ireguler, BaitulMaal yang profesional, Amil yang handal, Nazhir yang kompeten.

InsyaAllah..

Rasanya saya mau ngadain pelatihan gratis, kami yang sediakan hotelnya, yang datang wajib pendiri yayasan, ketua, dan pimpinan pondok, bagaimana?

Imajinasi aja sih, da saya bukan lulusan pondok, lewat tulisan aja yah.... semoga ada manfaatnya.

URS - lagi gelisah sama keadaan ustadz ustadzah pondok

Bantu Ekonomi

Bantu Ekonominya!

Bantulah apabila kau mampu secara Ekonomi dan
Apabila tidak berusahalah secara syariah

Kalo tidak juga berdo'alah
Bila semua dilakukan lalu berserah pasrah
Bertaqwalah!

Sebaik-baiknya manusia
Adalah yang bertaqwa Dan membantu sesama

InsyaAlloh Bahagia Dunia Akhirat Surga (BDAS)

#bantu
#ekonomi
#syariah

Politik dan Ekonomi

-Yang Berdasi Menghargai Profesi-

Aku Berdasi Menghargai setiap profesi
Dan akupun menghormati dari semua Profesi 
tanpa basa-basi karena aku mengalami

Pernah menjadi kenek angdes.dan angkot
Pelajarannya tetap melek tanpa judes n melotot
Intinya tetap fokus melayani dan memberi arti 
hingga capai tujuan dengan selamat

Mengalami jadi supir angdes, angkot, taksi, taksol
Sopir rental, pribadi, perusahaan, lembaga Dan lainnya
Disana saya belajar bagaimana berkonsentrasi tinggi
Namun tetap mencapai tujuan pasti

Kerja Keras, buruh pabrik, kuli kasar, bangunan, angkut, ojek, ob.
Macul, ngarit, ngangon, tandur, jemur, olahragawan..
Itu semua kualami penuh arti
agar senantiasa bisa lebih bermakna

Jadi penjaga, sales, marketing, anggota ormas, teknik, 
manajer, direktur, guru, komunitas, musisi, ruang kreasi anak negeri
Semua kujalani dan kulalui dengan rela hati
Semata-mata semua dgn Harapan Keridhoan

Jadikan politik baik, cantik, unik, estetik dan asyik agar hasil ekonomi tambah baik dan ciamik.

Yuk tanpa caci dan juga Maki
Setiap profesi hargai dan hormati
Bangga akan pakaian yg kita kenakan!!

#Profesi
#politik
#ekonomi

Hukum dan Ekonomi

- Hukum dan Ekonomi -

Saya Belajar dan Mengetahui Produk Hukum di LBHJ - YBPN
Khususnya dari seorang kawan yang baik hati, dosen Unpas juga masyarakat lain dan kontribusi bagi negeri tak diragukan lagi.

Ternyata Secara pemikiran pribadi bahwa Hukum itu adalah Rasional
Namun lebih dari itu ialah aturan
Aturan apa,, aturan yang memang untuk dimanfaatkan, diberdaya gunakan untuk kesejahteraan masyarakat secara luas.

Hukum dan ekonomi setali tiga uang 
Bagaimana etika dalam berbisnis
Budaya dalam ekonomi sinergi dengan hukum yang berlaku sehingga memberikan dampak atau manfaat yang banyak dan juga menyeluruh.

Dan pada akhirnya saya dijadikannya sebagai anggota dari LBHJ - YBPN ( Lembaga Bantuan Hukum dan Jasa Yayasan Bhakti Putra Nusantara )

Terimakasih atas Kepercayaannya dan ini adalah amanah yang harus diemban dan dijalankan.
Serta mohon maaf atas segala kekurangan yg ada pada diri pribadi.

Dan Kebenaran datang dari yang MAHA BENAR dan Sebaik-baiknya HUKUM dan ATURAN adalah DariNya Yaitu ALLOH SWT.

Sukses terus untuk LBHJ - YBPN
"Tegaknya Hukum akan menjadikan Makmur dan Jayanya Masyarakat diseluruh Nusantara".

#lembaga
#bantuan
#hukum
#ekonomi
#jasa
#yayasan
#bhakti
#putera
#nusantara