Selasa, 21 Februari 2023

Kemiskinan Ekonomi Akibat Efek Domino Kesejahteraan

DOMINO EFEK KESEJAHTERAAN

Sekitar dua pekan yang lalu saya kedatangan aktivis dakwah jalanan. Sosok yang mendedikasikan dirinya untuk segmen dakwah mereka yang banyak menghabiskan waktu di jalan, relatif tidak berpusar di Masjid, apalagi ta'lim.

Pengalaman beliau terjun di dakwah jalanan tentunya berdampak pada kedalaman pemahaman beliau tentang apa yang masyarakat hadapi. Sangat berbeda pendalamannya dengan kami yang mungkin banyak berpusar di masjid dan ta'lim.

Salah satu problem memprihatinkan, yang kemudian disimak oleh sahabat saya ini adalah... maraknya judi online dikalangan masyarakat ekonomi kelas bawah. Bahkan pekerja moda roda dua online pun aktif beli token judi, sepuluh dua puluh ribu untuk bertaruh di platform judi online.

Pendalamanpun beliau lakukan, mengapa disaat ekonomi sudah sulit, masih mau-maunya berjudi, ternyata sudut pandang lain terkuak, mengejutkan,

"Mereka itu bilang, kalo cuma bawa hasil ngojeg sepuluh dua puluh ribu ya gak cukup, desakan kebutuhan harus ngidupin anak-anak, makan, itu lebih dari segitu. Jadi bagi mereka, mempertaruhkan sepuluh dua puluh ribu untuk dapat gede, jadi ilusi tersendiri."

Tragis memang, tetapi itulah masalah sosial yang hari ini kita hadapi. Berjudi tidak lagi harus ke tempat judinya. Semua amal sholih dan juga amal maksiat, dalam waktu yang bersamaan bisa diakses lewat teknologi yang mudah hari ini.

***

Membaca kemiskinan sebenarnya tidak bisa hanya dibaca sebagai perilaku personal. Misalnya anggapan "dia miskin karena malas". Hal ini gak bisa jadi patokan karena kemiskinan dalam keilmuwan sosial juga bisa terjadj karena struktur ekonomi masyarakat yang gak bisa menghadirkan kesejahteraan, mau serajin apapun orang tersebut.

Kita harus melihat secara holistik, kemiskinan terjadi pada awalnya karena tidak ada platform ruang pekerjaan bagi angkatan tenaga kerja aktif, lalu jika ditarik ke belakang, tidak mumpuni nya kualitas pendidikan dalam menghasilkan output kompetensi. Jika ditarik lagi ke belakang, ketidak cukupan unit sektor riil yang dapat menampung semua angkatan kerja.

Alhasil mencari penghasilan jadi berat, serat-serat penghasilan jadi tertekan. Itulah yang mendera masyarakat.

Jika memang arus penghasilan yang menjadi permasalahan, harusnya kita bisa mengoperasi kemiskinan ini dari sisi yang lain, yaitu mengurangi beban kebutuhannya.

Pada tulisan kali ini saya ingin memberikan apresiasi kepada gerakan dakwah pendidikan Quran dengan konsep beasiswa penuh, dimana angkatan belajar negeri ini terserap di rumah-rumah Quran dan pondok-pondok Tahfidz. Tidak hanya belajar, tetapi juga bermukim.

Di titik program seperti inilah kebutuhan hidup para pemimpin keluarga bisa terkurangi. Saudara-saudara kita yang Allah uji dengan kecilnya arus penghasilan dapat ringan hidupnya, jika anak-anak saudara kita tercover pendidikan dan hidupnya di pondok-pondok tahfidz.

Mari kita bahas sedikit, seorang santri yang menjalani program tahfidz Al Quran, biasanya mukim di asrama selama tiga tahun, ditanggung makannya, biaya hidupnya, hingga proses pendidikan pun tidak bayar apa-apa.

Jika pondok-pondok dan rumah Quran ini bertumbuh maksimal di negeri ini, maka serapan pada anak muda angkatan belajar pasti akan tinggi. Dan ini insyaAllah meringankan banyak beban pemimpin keluarga yang masuk dalam kategori dhuafa.

Kesejahteraan dalam perspektif Islam sederhana. Tercukupi kebutuhan makan, ada hunian, tercukupi sandang, lalu akses pada pendidikan dan kesehatan.

Gerakan Rumah Tahfidz Quran dan Pondok Quran sebenarnya adalah jawaban atas soslusi kemiskinan di negeri ini, setidaknya solusi awal untuk menekan beban kebutuhan keluarga dhuafa, biarlah anak-anak generasi muslim ini dididik sekaligus dinaungi kehidupannya oleh lembaga dakwah.

***

Visi besar diatas bukan utopia. Perlahan populasi Rumah Quran perlahan bertumbuh, dan kerja peradaban ini haruslah didukung oleh semua pihak, semua entitas, barulah gelombangnya bisa maksimal.

Ada gerakan yang menyediakan beras pondok, ada gerakan yang menyediakan voucher listrik untuk pondok, ada gerakan yang menyediakan khusus telur untuk pondok, ada yang lebih jauh sampai menyediakan daging untuk santri, di berbagai pondok. Kesemua itu adalah harmoni gerak yang harus kita doakan dan dukung, untuk gelombang perbaikan generasi kedepannya.

Bukan hanya dihidupi, tetapi generasi ini dididik dengan Al Quran. Bukan hanya sekedar memberi makan dan tempat tinggal, tetapi kita bersama-sama mencetak generasi muslim yang dekat dengan Al Quran.

Semoga perspektif ini mendorong kita untuk semakin semangat mendukung gerakan dakwah kesantrian tahfidz di negeri ini. Mari dorong lahirnya titik-titik pemukiman pondok untuk para santri. Mari sama-sama dukung makannya, pendidikannya, dan segala kebutuhannya.

Semoga Allah ridho, semoga Allah turunkan rahmah.

URS

Tidak ada komentar: