Minggu, 21 Mei 2023

Politik Ekonomi

- Politik -

Perihal Mengenai Ketatanegaraan, kenegaraan, dasar dan sistem pemerintahan di suatu negara.

Mengatur kebijakan dan menjalankan kekuasaan itu adalah politik.

Seni strategik atau taktik
Dalam mengatur, mengelola, dan memanajemen kekuasaan agar ahkhirnya keren. Ini juga bisa disebut politik.

Ada pejabat publik yang Tak etik dengan taktik licik dan picik, penuh intrik serta tidak mau menerima saran dan kritik yang pada akhirnya rakyat 'tercekik'.

Tak menyerang fisik
Akan tetapi membuat terusik, memprioritaskan etnic dan mengakibatkan polemik.

Etika, Budaya, dan aturan politik yang lalu biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru..

Namun itu semua akan terbalik apabila politik diracik dengan apik penuh teknik,  etik, nyentrik, asyik, estetik energik, unik, cantik dan baik bersatu demi kekuasaan yg lebih ciamik dan menjadi negara terbaik.

Jika itu semua dilakukan politik ekonomi disikapi dengan bijak dan adil maka insyaalloh hasilnya tanpa nihil.

Semoga Perspektif Leadership di era disruptip ini, harapan saya di tahun politik  ini bisa melahirkan pemimpin eksekutif, yudikatif dan legislatif yang akan mengantarkan kepada Keadilan, Kesejahteraan, kemakmuran, keselamatan, kebahagiaan, dan Keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat indonesia.

Saya yakin dan Berharap Tuhan YME yaitu ALLOH AZAWAZALA MAHA MENDENGAR dan MAHA MENGABULKAN segala do'a HambaNya, Insyaalloh Aamiin YRA...🙏🏻😇🤲🏻

#perspektif
#surya
#sugianto
#tentang
#Politik
#baik
#politikbaik 
#cantik
#nyentrik
#eksentrik
#unik 
#energik
#asyik
#naik 
#etnik
#terbaik
#bahagiaduniaakhiratsurga
#bagjadunyaakheratsurga
#bdas

Sabtu, 20 Mei 2023

Debat Rezeki Ekonomi

- Debat Perihal Rezeki -

Ingat Jangan Pernah Mencela atau Merendahkan!

Apakah seseorang itu ahli teori, praktisi atau ahli di keduanya..

Jalankan saja sesuai peranmu dengan Maksimal,
Maka nanti kau akan tau arti hidup.

Setiap orang Mukmin dan Muslim pasti meyakini bahwa rezeki datangnya dari ALLOH SWT sebagaimana firman-Nya:

*وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ*

_Artinya:_
*"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata. (QS. Hud:6)*

Akan tetapi bagaimana memperoleh rezeki sering mengundang perbedaan pendapat dari banyak orang. Hal ini pula pernah menjadi 'perdebatan' ulama besar Imam Maliki dan Imam Syafi'i yang merupakan guru dan murid.

Dikisahkan, ketika dalam satu majelis ilmu, Imam Malik (wafat 179 H) yang merupakan guru dari Imam Syafi'i (wafat 204 H) mengatakan bahwa rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Alloh akan memberikannnya rezeki.

"Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Alloh mengurus lainnya," demikian pendapat Imam Malik.

Imam Malik mengambil pendapatnya itu berdasarkan sebuah hadis Rasululloh:

*لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا*

*_"Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang"._*

Ternyata Imam Syafii memiliki pandangan lain. Beliau mengemukakan pendapat kepada sang guru. "Ya Syeikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?" kata Imam Syafii.

Imam Syafii menyampaikan pendapat bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan usaha dan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri, melainkan harus dicari dan didapatkan melalui sebuah usaha.

Guru dan murid yang merupakan pendiri mazhab itu bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Hingga suatu ketika, saat Imam Syafii berjalan-jalan, beliau melihat serombongan orang sedang memanen buah anggur. Beliau pun ikut membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafi'i mendapat imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafi'i senang bukan main. Beliau senang bukan karena mendapatkan anggur, tetapi karena memiliki alasan untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pendapatnya soal rezeki itu benar.

Dengan bergegas Imam Syafi'i menjumpai Imam Malik yang sedang duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, Imam Syafi'i menceritakan pengalamannya seraya berkata: "Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya".

Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berucap pelan. "Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Alloh niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya".

Imam Syafi'i langsung tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Sang Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam mazhab mengambil dua hukum berbeda dari hadis yang sama.

Imam Malik dan Imam Syafii mengajarkan kepada umat Islam bagaimana menyikapi perbedaan. Keduanya tak saling menyalahkan lalu membenarkan pendapatnya sendiri. Begitulah indahnya Islam apabila saling menghormati, mencintai dan saling berkasih-sayang karena ALLOH SWT.

#dunyaburuakheratserbu
#bagjadunyaakheratsurga
#bahagiaduniaakhiratsurga
#bdas
#wallohualam
#insyaalloh