Tampilkan postingan dengan label #pendidikan #ekonomi #islam #sekolah #pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #pendidikan #ekonomi #islam #sekolah #pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2023

PENDIDIKAN EKONOMI ISLAM

KELUAR KOTAK

Daripada kita ngajarin kecerdasan manajemen keuangan untuk para ustadz ustadzah di pondok, alangkah baiknya kita juga membangun mekanisme kesejahteraan yang agresif untuk para guru. Kita letakkan orang berilmu pada harkat martabatnya.

Kecerdasan finansial, mengatur keuangan, itu penting, kalo ada uangnya. Nah, jika uangnya aja ngepas, ngepress, apanya yang mau dimanage, apa yang mau dikelola?

Membekali para ustadz dan ust!dzah dengan bekalan entrepreneurship ini juga harus hati-hati. Narasinya kayaknya keren, padahal bahaya.

"Agar guru juga bisnis, dagang, gak menggantungkan diri ke honor ngajar."

Tapi akhirnya seorang guru jadi gak punya waktu belajar, dan ini bahaya. Ilmu harus diasah, dipelihara, di murojaah, dimulazamah, jangan malah sibuk jualan.

Jika maqomnya di keilmuwan, biarlah fokus mendaras kitab, menulis di web, menulis tanya jawab ke ummat, berdialektika kajian di multaqo 'alim ulama, agar ummat ini ter asuh, terawat.

Sejarah kegemilangan Islam sudah menjawab, adanya Waqful Fuqoha untuk para faqih ilmu asalah bukti bahwa ulama itu tugasnya keilmuwan, jangan dipaksa dagang jualan, gak semua cocok.

Waqful Fuqoha itu, dibiayai hidupnya dari wakaf produktif, ditopang hidupnya dari hasil kebun-kebun kurma yang diwakafkan Sultan, kebun-kebun zaitun yang diwakafkan oleh aghniya, ada scriptnya, kalo mau fair sama sejarah, dibuka ada.

Maka alangkah baiknya ini yang difikirkan. Bukan nganggap para guru mata duitan, gak ikhlash, tapi terkadang kita gak menempatkan ahli ilmu di tempatnya.

Jika gaji guru, ujroh para ustadz di pondok-pondok ini gak ngejar ke angka kelayakan, dorongan migrasinya SDM bagus-bagus ke sektor lain ini pasti terjadi. Paling riskan adalah migrasinya guru laki-laki, karena penopang keluarga, dan tersisalah dominan para guru perempuan, ini juga dampaknya besar pada generasi laki-laki yang kehilangan teladan maskulin di bangku pendidikan.

Saya usul, usul pribadi aja, ya bukan atas nama entitas atau lembaga, alangkah baiknya kita mendesain kesejahteraan yang agresif untuk para guru-guru kita.

***

Masalahnya menurut saya bukan di pengelola Yayasan, atau pimpinan. Jangan buruk sangka dulu.

Saya bicara dan diskusi banyak dengan para pengurus yayasan, gak jarang juga mereka buka laporan keuangan. Ya pusing juga menghelat pondok ribuan santri, walau ada SPP, ya gak bisa besar-besar, walau ada uang wakaf, tergerus ke bangunan baru atau maintanance.

Gak ada yang namanya nilep-nilep, itu sangka baik saya.

Namun menurut saya salahnya di modeling arus pemasukan entitas pondok, atau pendidikan Keislaman. Yang salah ada di cara berfikir dan cara main yang dipertahankan. Old school, gak ngikutin zaman.

Arusnya hanya dari SPP, uang masuk, uang naik tingkat, yang kalo mau digimana-gimanain, pasti ada batasnya, apalagi berlakunya ke seluruh santri. Pukul rata.

Sebuah nominal pasti ringan bagi sebagian wali santri, tapi beratnya setengah mati bagi wali santri yang lain.

Gak usah jauh-jauh bikin bisnis pondok, atau mau bikin usaha produktif, gak usah jauh kesitu, ngejalaninnya aja nanti belum tentu bener, masalah baru lagi nanti. Silakan aja kalo ada SDM profesionalnya.

Coba fokus aja ke segmen khusus di para wali santri. Data santri aktif ribuan, 6 tingkat. Setingkat SMP-SMA. Tsanawiyah Aliyah. Berarti wali santri aktif ada berapa ribu itu, belum lagi alumni pondok yang sudah berkarir.

Mengapa gak bikin entitas khusus untuk kelola potensi ini? Dari belasan ribu wali santri, insyaAllah ada segmen pengusaha muslimnya, ada segmen aghniya nya, mengapa gak dibangun komunikasi intens kepada segmen ini?

Bangun tim relation pondok yang profesional. Hire tim komunikasi publik yang handal. Rekrut marketer program yang ngerti cara offering amal sholih. Sangat bisa dilakukan.

Maka arus pemasukan pondok bisa berlipat. Malah bisa jadi satu gedung baru dari wakaf satu pengusaha muslim.

Ini masalah transfer visi, ruh, pelayanan, selama komunikasinya baik, insyaAllah bisa.

Jika ragu bantu uang, kirim fisiknya saja, kirim mobilnya, semennya, bangku belajarnya, bismillah.

Sangat bisa. InsyaAllah.

Dengan diterapkannya multiple income source, sebuah pondok bisa memberlakukan imbal balas kerja yang progresif kepada tenaga pendidik.

Tidak hanya dari SPP, tidak hanya dari uang pangkal atau uang tingkat, tapi bisa dari infaq wali santri, waqaf tunai wali santri, kerjasama wakaf hak hasil usaha, dan banyak lagi.

***

Bicara kesejahteraan itu bukan cuma soal gaji. Jika pondok dapat mensupport kediaman untuk para ustadz, fasilitas kesehatan, sumber pangan bersama agar living cost murah, lokasi perumahan ustadz dan pondok yang dekat, hingga menekan beban transport, insyaAllah sejahtera.

Membangun perumahaan komersial yang dapat dimiliki oleh para guru itu baik, silakan saja difasilitasi, namun jika kembali ke sejarah wakaf, fasilitas wakaf kediaman untuk para pengajar itu membentang di sejarah Islam. Tinggal berani baca atau nggak aja. Ada yang pura-pura gak tau.

Secara pribadi saya punya impian, di negeri ini, imbal kerja seorang ustadz ustadzah di entitas pendidikan Islam adalah profesi yang didambakan. Insentif itu menggerakkan market, kalo imbal balasnya gak agresif, sosok-sosok berkualitas generasi muslim ini akan lari ke sektor komersil semua, jangan bicara jiwa pengabdian pada nyawa kehidupan seseorang. Ini hidup orang.

Desainlah nilai balas kerja yang agresif, bangun sistem kemakmurannya, insyaAllah seorang ustadz ustadzah akan dapat mengajar dengan tenang, poll.

Mudah-mudahan dengan dicukupi kebutuhannya, waktu luangnya akan digunakan untuk membuka kitab, memperkuat ruh, mendalami ilmu, bergerak dari dauroh ke dauroh, maka yang akan mendapatkan benefit adalah anak-anak kita sendiri, generasi kaum muslimin.

Anak-anak kita akan didik oleh para ustadz ustadzah yang benar-benar seratus persen dedikasi hidupnya untuk pembentukan karakter, transfer ruh, pendalaman ilmu.

***

Semangat tulisan ini, mengajak kita semua keluar dari kotak, berfikir meluas, mencari cara pendekatan baru.

Berhenti kita saling menyalahkan, Pembina Yayasan juga pusing, Ketua Yayasan juga, para tim Asatidz apalagi, mengasuh ribuan santri.

Sudah saatnya kita membuka fikiran atas peluang, celah kebertumbuhan, jangan sampai potensi ribuan wali santri hanya difikirkan SPP dan uang wakafnya saja. Itu pasti fix. Fix berat gak cukup.

Kembali menegaskan saran diatas, perlu dibangun pemasukan pondok yang ireguler, BaitulMaal yang profesional, Amil yang handal, Nazhir yang kompeten.

InsyaAllah..

Rasanya saya mau ngadain pelatihan gratis, kami yang sediakan hotelnya, yang datang wajib pendiri yayasan, ketua, dan pimpinan pondok, bagaimana?

Imajinasi aja sih, da saya bukan lulusan pondok, lewat tulisan aja yah.... semoga ada manfaatnya.

URS - lagi gelisah sama keadaan ustadz ustadzah pondok